Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Potensi Sosial dan Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potensi Sosial dan Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Maret 2015

KERAJINAN ANYAMAN CETHING



 KERAJINAN ANYAMAN BAMBU CETHING 

Sebagian masyarakat Desa Gunungsari Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen ada yang berprofesi sebagai pengrajin anyaman bambu. Salah satu bentuk kerajinan ini berupa cething atau bakul untuk parabot dapur. meskipun tidak sebanyak desa tetangga (Desa Glontor) tapi profesi ini masih tetap eksis di kerjakan untuk menambah penghasilan. bahan baku yang melimpah dan tempat pemasran yang tidak terlalu jauh yaitu pasar somawangsa membuat kerajinan ini termasuk komodite andalan di wilayah Desa Gunungsari.
berikut cara pembuatanya: 



A.    Bahan utama
Bambu sebagai bahan dasar pembuatan anyaman

B.     Bahan pendukung
Ata      : aksesoris dan pengikat bending atas cething
C.     Alat
Alat yang digunakan adalah :
1.      Usu
Digunakan untuk melubangi saat proses bending
2.      Gergaji
Diguanakan untuk memotong batangan bambu
3.      Golok  
Digunakan untuk membelah potongan bambu
4.      Pisau serut
Digunakan untuk menyerut bilah potongan Bambu dan ata
D.    Proses Pembuatan
1.      Pertama-tama Bambu dipotong dengan ukuran 1 ½ meter atau lebih disesuaikan dengan besar kecilnya cething yang akan dibuat

2.      Potongan Bambu dibelah menjadi bilah dengan ukuran lebar 1 cm
3.      Bilah diserut supaya halus dan tinggal kulit luar
4.      Serutan dianyam dengan formasi anyaman 3-2-1 
    2-1-3
    1-2-3 dst sehingga membentuk badan cething

5.      Pembuatan kaki dengan menggunakan papan dari bambu dengan lebar  ± 10 cmyang sudah diasap
6.      Bending bagian atas dengan bilah Bambu tebal dengan lebar ± 3cm


7.      Memberikan aksesoris dengan mengenakan ikatan ata secara vertical sepanjang bending

8.      Cething siap digunakan

Senin, 07 April 2014

http://gunungsari014.blogspot.com/2014/04/krupuk-singkong-gople-hasil-olahan.html

HASIL OLAHAN INDUSTRI RUMAH TANGGA 
WARGA DESA GUNUNGSARI DAN SEKITANYA
KRUPUK SINGKONG "GOPLE"

Nama "Gople" adalah sebutan masyarakat Desa Gunungsari dan sekitanya untuk hasil olahan industri rumah tangga krupuk dari bahan baku singkong. Daerah lain menyebut kerupuk ini dengan sebutan yang berbeda-beda, misal di daerah Banjarnegara, Banyumas, dan Cilacap krupuk ini di sebut "Canthir", di daerah Kebumen timur krupuk ini disebut "Gaplek" atau "Banggi". 
sebagai desa yang terletak di daerah pegunungan yang mayoritas lahan pertanian berupa tanah kering/ ladang, para petani cenderung menanam singkong sebagai komoditas utama pertanianya. Bahan baku singkong yang melimpah  di Desa Gunungsari banyak digunakan sebagai bahan makanan seperti oyek, lanthing, krupuk, tepung, rengginang, dan lainya.
Kebun Singkong, Komoditas pertanian utama warga Desa Gunungsari

Khusus krupuk singkong, masyarakat Desa Gunungsari dan sekitarnya mengolah bahan baku singkong dengan sistem home industri. Profesi pembuat krupuk ini sangat potensial untuk menambah penghasilan, maklum lapangan pekerjaan di daerah kami sangat sulit dicari, disamping karena faktor ketersediaan bahan baku yang  melimpah ruah dan murah harganya. 
Proses pembuatan krupuk ini cukup sederhana, cuma perlu tenaga extra lebih. Tetapi bagi warga Desa Gunungsari hal tersebut bukan menjadi soal karena mereka adalah tipe orang-orang pekerja keras.
Mula-mula singkong dikupas dari kulitnya, tongkol singkong dibuang sehingga tinggal daging singkongnya. Kemudian singkong dicuci bersih. Setelah itu itu dimasukan kedalam mesin giling (kalau bahasa daerah kami "diparut").  keluaran parutan ini berupa sejenis tepung yang masih mengandung air, untuk menghilangkan kadar air dalam tepung tesebut kemudian masuk proses selanjutnya yaitu di pipit dengan mesin pipit.  setelah dipipit hasil olahan singkong itu seperti tepung kering cuma agak sedikit kasar.
Langkah selanjutnya adalah pemberian bumbu pada tepung dan pemberian pewarna makanan. Tepung yang diberi pewarna makanan adalah 30% dari jumlah tepung yang ada, sementara yang 70% dibiarkan tanpa pewarna makanan alias putih polos. Setelah itu tepung dikukus dengan kukusan di atas tungku dengan menggunkan "dandang".  Proses memasukan tepung biasanya awalnya (35%) tepung putih, lapis kedua tepung denga pewarna makanan(15%), diatasnya tepung putih(35%)  lagi dan lapis keempat tepung dengan pewarna makanan lagi(15%).
Setelah matang dan kenyal (kami sebut ini menjadi "Glebegan"), diangkat dan dibagi menjadi tiga bagian dengan alat pemotong berupa benang. Gelebagan tersebut dibuat bulat dan memanjang kurang lebih 40cm per bagian potonganya. sampai disini kemudian di simpan selama 3 hari sampai gelebagan menjadi keras dan siap untuk dipotong-potong.
 Glebegan

Lanjut, tiga hari sudah berlalu katakanlah demikian. Proses pemotongan (mengiris-iris tipis seperti mengiris bawang) glebegan dilakukan dengan alat pemotong yang kami sebut "Cacak". Proses ini dalam bahasa kami adalah "Rajang". setelah dirajang kemudian di jemur di panas matahari sampai benar-benar kering. disini krupuk singkong sudah jadi dan siap dipasarkan atau dikonsumsi sendiri. 
Proses Penjemuran

Kendala yang dihadapi oleh pembuat "Gople" ini adalah faktor cuaca. jika musim penghujan dan suasana mendung apalagi berhari-hari maka "glebegan" tidak mungkin "dirajang" dan hal ini sangat berpotensi timbul jamur pada glebegan yang nantinya akan mempengaruhi kualitas hasil akhir produksi seperti warna kurang cerah dan kurang menarik.
Pemasaran Gople ini cenderung naik turun harganya. pada bulan-bulan rame hajatan biasanya harganya naik dan permintaan banyak, saat bulan sepi hajatan harga cenderung turun karena permintaan berkurang. tetapi saat ini harga cenderung stabil dikarenakan Gople ini sudah menjadi makanan ringan yang banyak disukai orang apalagi jika dicampur soto... cocok banget!!!
Produk Akhir

dengan produksi keseluruhan mencapai 1 ton produk jadi perhari, gople ini dipasarkan sampai keluar daerah dan luar provinsi, seperti Jogjakarta, Purworejo, Solo, Banjarnegara, Banyumas, Cilacap bahkan sampai ke Jawa Timur dan Lampung. Para Pembeli datang sendiri dengan membawa truk atau pick up dan tinggal mengambil dari para penadah yang ada di daerah pasar somawangsa. meskipun dari singkong gople rasanya gurih. Pokoke..  Murah-Meriah!!.

Jumat, 04 April 2014

Pasar Somawangsa Desa Gunungsari Kecamatan Karanggayam

PASAR SOMAWANGSA GUNUNGSARI


Pasar Somawangsa merupakan  pasar tradisional yang dikelola oleh Pemerintah Desa Gunungsari Kecamatan Karanggayam kabupaten Kebumen. Lokasi pasar terletak di Dukuh Somawangsa Rt. 07 Rw. 04. Kegiatan pasar dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis, sehingga pasar ini juga bisa disebut Pasar Mingguan ditinjau dari waktu pelaksanaannya. Pada kenyataannya meskipun pasar tradisional, Pasar Soma berskala kabupaten hal ini dibuktikan banyaknya pedagang dan pembeli yang berasal dari daerah lain. Seperti dari Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Banyumas. Sementara dari luar Kecamatan Karanggayam banyak pedagang dan  pembeli yang berasal dari Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Gombong, Kecamatan Sruweng dan Kecamatan Pejagoan.
Pasar Somawangsa merupakan pasar terbesar di daerah Kecamatan Karanggayam. Sirkulasi rupiah diperkirakan mencapai 300 juta per hari pasar.
komoditi yang diperjual belikan adalah :
1. Hasil bumi warga desa Karanggayam wilayah utara
2. Sayur mayur dan komoditas luar daerah
3. Hewan ternak (kambing, ayam, enthog, dan yang sejenisnya)
4. Kerajinan lokal (cething, kukusan, tampah, dll.)
5. Hasil olahan industri rumah tangga (oyek, krupuk gople, rengginang dll.)
Pada hari pelaksanaan pasar, lokasi pasar tidak bisa menampung pengunjung (pelaku-pelaku dagang) sehingga sepanjang jalan somawangsa menjadi pasar tumpah. Bahkan kegiatan pasar sampai ke perbatasan desa dan memasuki wilayah Desa Selogiri.

Saat ini Pemerintah Desa Gunungsari sudah melakukan penataan terkait tata kelola pasar dengan diterbitkannya Perdes tentang Pasar Desa, sehingga manajemen pengelolaan pasar diharapkan akan lebih baik dan terorganisir.